Lembaran awal mengenal Sangihe

Gunung Berapi Awu, Kepulauan Sangihe
Siapa sangka, tulisan murahan yang sempat aku tuliskan 2 bait di timeline twitter 4 tahun sebelum kisah ini benar-benar terjadi. Saat itu, aku sendiri hanya berangan-angan dan menuliskan dua keinginan bahwa setelah lulus kuliah nanti akan mengajar di sekolah yang keren seperti international school dengan kurikulum dan pengantar bahasa yang international dan kemudian aku juga akan merasakan mengajar di sekolah yang sangat membutuhkan tenaga pendidik seperti aku , di daerah terpencil, terdepan dan terluar yang sulit dijangkau dari pusat kota.
Benar saja, setelah 3 tahun kelulusan ku saat ini, dua keinginan itu telah di amini oleh Allah, S.W.T.
Pada awalnya, aku sendiri pun tidak menyadari bahwa keinginan itu ternyata terkabul perlahan. Sampai akhirnya aku mencoba mencari kembali tulisan yang pernah aku tulis tersebut, namun aku sendiri bingung kenpa tulisan tersebut tidak ditemukan lagi. Yang pasti, karena itu adalah dibuat oleh keinginan ku sendiri jadi, aku dapat mengingatnya.

Setelah memutuskan dengan pikiran yang cukup matang, akhirnya aku sendiri memutuskan kontrak mengajar di Kidea Montessory Preschool and Kindergarten tahun 2016 silam di bulan Juni setelah satu tahun. Alasannya bukanlah karena apa-apa. namun, memang karena keinginan yang begitu dalam untuk merasakan sebuah pengalaman besar dari sisi lain Indonesia. Terbiasa dengan lingkungan sekolah yang modern, serba ada, berteknologi canggih dan berada dalam lingkungan yang middle - high community. Namun, apakah yang akan terjadi jika aku mencoba keluar dari zona nyaman di hidupku untuk mencoba lingkungan yang begitu bertolak belakang dengan kenyamanan saat itu. Hal ini tidaklah mudah. Sudah dimanjakan dengan fasilitas yang ada, lingkungan yang enak, teman-teman yang bahagia dan anak-anak yang lucu.

Yup, then I did it. Aku keluar dari zona nyaman tersebut dengan keinginan sendiri. Baru-baru ini aku mengajar di sebuah daerah yang pada mulanya akupun sendiri tidak mengetahui bahwa itu adalah wilayah Indonesia. Setelah melewati proses seleksi yang cukup panjang akhirnya akupun benar-benar resmi diterima. Alhamdulillah, untung diterima kalau tidak kan malu  karena alasan keluar dari Kidea adalah ini :D. Hmm.. ternyata untuk menjadi pengajar ke daerah terpencil sekalipun lebih sulit dari pada mengajar di wilayah ternyaman versi kota.

Namanya Sangihe, sebuah pulau kecil yang berada di ujung utara perbatasan Indonesia dengan Philipine. Wilayah ini merupakan wilayah kepulauan yang ber-ibukotakan Tahuna. Coba kalian telisisk di peta, coba cari Sangihe. Mungkin, kalian akan sedikit sekali yang notice tanpa berlama-lama membaca-baca nama-nama pulau di Indonesia. Iyah, jika dilihat dari peta wilayah Indonesia secara keseluruhan, kepualuan Sangihe ini hanya terlihat seperti titik-titik yang tersebar dibagian atas pulau Sulawesi. Tepat berada di depan garis perbatasan Indonesia dnegan Philipine. Kaget!! Iya, kaget luar biasa ketika diumumkan bahwa akan ditempatkan di pulau yang kecil itu. Banyak pikiran-pikiran aneh yang bermunculan. Bagaimana kalau pulau setitik itu diguyur hujan lebat dan banjir dalam sekejap kemudian terbenam :''(. Juga, mungkin dengan berjalan kaki aku sudah bisa mengelilingi pulau ini dalam waktu sehari.
Pikiran liar itu muncul padahal itu semua adalah takdir dari yang Kuasa. Semua pikiran itu akan buyar sudah ketika aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di pulau tersebut.


Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Mendaftar Indonesia Mengajar

Keseruan di Farm House Lembang